Senin, 09 Juli 2012

RiNDu... KaNGeN... Miss u....



Definisi 'rindu' : merupakan kata sifat (adjective) dalam Kamus Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa:

1 sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu: ia -- akan kemerdekaan; 

2 memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu (hendak pulang ke kampung halaman) :ia -- benar kepada anak-istrinya; 
-- jadi batasnya maka manis tak jadi cuka, pb jangan terlalu mesra bergaul dengan seseorang sebab pergaulan seperti itu kerap kali menimbulkan dendam kesumat; 
-- dendam sangat berahi; menaruh cintakasih (kepada): -- dendam yangg telah sekian lama terpendam dalam hati; 
-- rawan rindu dendam; 
me·rin·du v 1 menjadi rindu; menanggung rindu: kelakuannya seperti orang sedang ~; 2 bernyanyi karena rindu; 
me·rin·du·kan v 1 sangat menginginkan dan mengharapkan (hendak bertemu): dia ~ kekasihnya; 2 menaruh cinta kepada; 3 membangkitkan rasa rindu: nyanyian yang merawankan dan ~ hati; 
rin·du·an n sesuatu yang dirindukan; 
pe·rin·du n 1 buluh yang tipis, biasa digunakan untuk suling; 2 pekasih; guna-guna; 
ke·rin·du·an n perihal rindu; keinginan dan harapan (akan bertemu)



Rindu adalah perasaan yang mengganggu dan mungkin akan selalu ditunggu. 

“Sayang, mengapa aku selalu merindukanmu?”
“Karena aku membutuhkanmu.”

Semalam ku bermimpi tentang seseorang, oh, pertanda daku teringat akan dirinya. Dan rasa rindu itu hadir atas izin Allah. Mimpi itu terjadi pun atas izin Allah.

Satuan, puluhan, ribuan, jutaan,  milyaran, atau bahkan trilyunan cerita tentang rindu yang begitu menggebu tak mungkin bisa kutuliskan di sini kata demi kata.

Kangen atau rindu seperti titik salju yang turun dari langit.kian detik ia kian besar.ia bisa jadi energi positif,namun juga bisa jadi bencana.apakah rindu atau kangen itu sebenarnya? Harus ada sebuah ruang bagi kita untuk sedikit menengok kembali makna cinta, rindu, kangen agar kita tidak menodainya dengan nafsu sesaat.
Saat aku tertawa di atas semua cerita lucu, saat aku menangis di atas semua cerita sedih yang begitu menderita, lara, nestapa, Allah selalu selalu ada menemaniku. Ya Rabb, aku akan selalu memuja-Mu, selama aku masih bernafas dan masih sanggup berjalan. Kepada Allah yang Maha Pembolak balik hati kitalah, rindu yang kita rasakan kita kembalikan.

Sumber tulisan yang berasal dari website: www.muslim.or.id, www.almanhaj.or.id, www.remajaislam.com, dan berbagai sumber lainnya ini bisa menjadi cahaya hati, pencerah jiwa dan pikiran, atau penggugah semangat untuk memperbaiki diri, meski ada beberapa kiat yang berat untuk dijalani di era modern ini. Semoga bermanfaat. :)

Obat Ketika Merindukan Si Dia yang Bukan Milik Kita

Tak bisa disangkal, manusia akan selalu bersentuhan dengan cinta. Sementara kecintaan memberikan buah kerinduan. Orang yang mencinta akan rindu kepada orang yang dicintainya.
Kerinduan kepada kekasih, seringkali membekaskan duka. Karena sudah tahu bahwa pacaran bukanlah jalan yang halal untuk ditempuh, maka nikahlah satu-satunya yang jadi pilihan. Padahal si pria belum mampu memberi nafkah lahir. Wanita pun masih muda dan dituntut oleh orang tua untuk menyelesaikan sekolah atau meraih gelar. Akhirnya, karena tidak kesampaian untuk nikah, maka pacaran terselubung sebagai jalan keluar karena tidak kuat menahan rasa rindu pada si dia. Lewat chatting, inbox FB atau sms jadi jalur alternatif.
Inilah yang dialami pemuda masa kini. Mungkin juga dialami para aktivis dakwah. Agar dikira tidak melalui pacaran, maka sms dan chatting yang jadi pilihan. Seharusnya rasa rindu ini bisa dipendam dengan melakukan beberapa kiat. Semoga Allah senantiasa memberi taufik.

An-Nuur Ayat : 30
qul lilmu/miniina yaghudhdhuu min abshaarihum wayahfazhuu furuujahum dzaalika azkaa lahum
inna allaaha khabiirun bimaa yashna'uuna
30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". [1]

Terapi dari Rasa Rindu dengan Segera Nikah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah[2], maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”[3]

Yang dimaksud dengan syabab (pemuda) di sini adalah siapa saja yang belum mencapai usia 30 tahun. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah.[4]
Secara bahasa, baa-ah bermakna jima’ (berhubungan suami istri). Sedangkan mengenai makna baa’ah dalam hadits di atas terdapat ada dua pendapat di antara para ulama, namun intinya kembali pada satu makna.
Pertama: makna baa-ah adalah sebagaimana makna secara bahasa yaitu jima’. Sehingga makna hadits adalah barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berjima’ karena mampu memberi nafkah nikah, maka menikahlah. Barangsiapa yang tidak mampu berjima’ karena ketidakmampuannya memberi nafkah, maka hendaklah ia memperbanyak puasa untuk menekan syahwatnya dan untuk menghilangkan angan-angan jeleknya.
Pendapat kedua: makna baa-ah adalah kemampuan memberi nafkah. Dimaknakan demikian karena konsekuensi dari seseorang mampu berjima’, maka tentu ia harus mampu memberi nafkah. Sehingga makna hadits adalah barangsiapa yang telah mampu memberi nafkah nikah, maka hendaklah ia menikah. Barangsiapa yang tidak mampu, maka berpuasalah untuk menekan syahwatnya.
Jadi maksud dari dua pendapat ini adalah sama yaitu harus punya kemampuan untuk memberi nafkah. Sehingga inilah yang menjadi syarat seseorang (khususnya pria) untuk membina rumah tangga dengan kekasih pilihan, yaitu ia memiliki kemampuan untuk memberi nafkah keluarga. Hal ini yang banyak disalahpahami sebagian pemuda. Mereka ngebet minta nikah pada ortunya. Padahal sesuap nasi saja masih ngemis pada ortunya. Hanya Allah yang memberi taufik.
Dari sini, barangsiapa yang memiliki kemampuan, maka segeralah untuk menikah guna memadamkan rasa rindu yang ada. Menikah di sini tidak mesti dengan orang yang selalu dirindukan. Boleh jadi, juga dengan orang lain. Karena nikah telah mencukupkan segala kebutuhan jiwa di samping dalam nikah akan ditemui banyak keberkahan. Jika memungkinkan menikah dengan orang yang dirindukan, maka menikahlah dengannya. Ini merupakan terapi manjur.

Berikut ini beberapa obat bagi orang yang dimabuk cinta, namun, orang tersebut belum sanggup untuk menikah karena suatu alasan.

Berusaha untuk Ikhlas dalam Beribadah

Ikhlas adalah obat manjur penyakit rindu. Jika seseorang benar-benar ikhlas menghadapkan diri pada Allah, maka Allah akan menolongnya dari penyakit rindu dengan cara yang tak pernah terbetik di hati sebelumnya. Cinta pada Allah dan nikmat dalam beribadah akan mengalahkan cinta-cinta lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

“Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang membahayakannya.”

Hati yang tidak ikhlas akan selalu diombang-ambingkan nafsu, keinginan, tuntutan serta cinta yang memabukkan. Keadaannya tak beda dengan sepotong ranting yang meliuk ke sana kemari mengikuti arah angin.

Banyak Memohon pada Allah

Setiap do’a yang kita panjatkan pasti akan bermanfaat. Boleh jadi do’a tersebut segera dikabulkan oleh Allah. Boleh jadi sebagai simpanan di akhirat. Boleh jadi dengan do’a kita tadi, Allah akan menghilangkan kejelekan yang semisal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selam tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allahu akbar (Allah Maha besar).”[5]

Ketika seseorang berada dalam kesempitan dan dia bersungguh-sungguh dalam berdo’a, merasakan kebutuhannya pada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do’anya. Termasuk di antaranya apabila seseorang memohon pada Allah agar dilepaskan dari penyakit rindu dan kasmaran yang terasa mengoyak-ngoyak hatinya. Penyakit yang menyebabkan dirinya gundah gulana, sedih dan sengsara. Oleh karena itu, perbanyaklah do’a.

Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu’min: 60)

Mengelola Pandangan

Pandangan yang berulang-ulang adalah pemantik terbesar yang menyalakan api hingga terbakarlah api dengan kerinduan. Orang yang memandang dengan sepintas saja jarang yang mendapatkan rasa kasmaran. Namun pandangan yang berulang-ulanglah yang merupakan biang kehancuran. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan agar hati ini tetap terjaga. Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.”[6]
Mujahid mengatakan,

غَضُّ الْبَصَرِ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ يُورِثُ حُبَّ اللَّهِ

“Menundukkan pandangan dari berbagai hal yang diharamkan oleh Allah, akan menimbulkan rasa cinta pada Allah.”[7] Berarti menahan pandangan dari wanita yang bukan mahrom akan menimbulkan rasa cinta pada Allah. Menundukkan pandangan yang dimaksud di sini ada dua macam yaitu memandang aurat sesama jenis dan memandang wanita yang bukan mahram.
Tiga faedah dari menundukkan pandangan telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[8]
Pertama: Akan merasakan manis dan lezatnya iman. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Dia akan memberi ganti dengan yang lebih baik.
Kedua: Akan memberi cahaya pada hati dan akan memiliki firasat yang begitu cemerlang.
Ketiga: Akan lebih menguatkan hati.

Lebih Giat Menyibukkan Diri

Dalam situasi kosong kegiatan biasanya seseorang lebih mudah untuk berangan memikirkan orang yang ia cintai. Dalam keadaan sibuk luar biasa berbagai pikiran tersebut mudah untuk lenyap begitu saja. Oleh karena itu, untuk memangkas kerinduan seseorang hendaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dunia atau akhirat. Hakikat dari rasa rindu adalah kesibukan hati yang kosong. Di kala sepi sendiri, tanpa aktivitas muncullah bayangan sang kekasih, wajah, gerak-gerik, dan segala yang berkaitan dengannya. Seluruhnya hanya sekedar bayangan dan khayalan yang berakhir dengan kesedihan diri. Tiada manfaatnya sedikit pun bagi kehidupan kita.
Ibnul Qayyim menyebutkan nasehat seorang sufi yang ditujukan pada Imam Asy Syafi’i. Ia berkata,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”[9]

Menghindari Nyanyian dan Film Percintaan

Nyanyian dan film-film percintaan memiliki andil besar untuk mengobarkan kerinduan pada orang yang dicintai. Apalagi jika nyanyian tersebut dikemas dengan mengharu biru, mendayu-dayu tentu akan menggetarkan hati orang yang sedang ditimpa kerinduan. Akibatnya rasa rindu kepadanya semakin memuncak, berbagai angan-angan yang menyimpang pun terbetik dalam hati dan pikiran. Bila demikian, sudah layak jika nyanyian dan tontonan seperti ini dan secara umum ditinggalkan. Demi keselamatan dan kejernihan hati. Sehingga sempat diungkapkan oleh beberapa ulama nyanyian adalah mantera-mantera zina.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.”
Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.”
Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”[10]
Imam Asy Syafi’i berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.”[11]

Bayangkan Kekurangan Si Dia

Ingatlah selalu, orang yang engkau rindukan bukanlah pribadi yang sempurna. Ia sangat banyak kekurangan, sehingga tidak layak untuk dipuja, disanjung atau senantiasa dirindukan. Orang yang dirindukan sebenarnya tidak seperti yang dikhayalkan dalam lamuman.
Ibnul Jauzi berkata, “Sesungguhnya manusia itu penuh dengan najis dan kotoran. Sementara orang yang dimabuk cinta senantiasa melihat kekasihnya dalam keadaan sempurna. Disebabkan cinta ia tidak lagi melihat adanya aib.”
Kita bisa menghukumi sesuatu dengan timbangan keadilan sedangkan orang yang sedang kasmaran tengah dikuasai oleh hawa nafsunya sehingga tak dapat bersikap dengan adil. Kecintaannya menutupi seluruh aib yang dimiliki oleh pasangannya.
Para ahli hikmah berkata, “Mata yang diliputi oleh hawa nafsu akan menjadi buta.”

Semoga Allah memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.



[1] Al Qur'an Terjemahan.
[2] Baa-ah ada tiga penyebutan lainnya: [1] al baah (الْبَاءَة), [2] al baa’ (الْبَاء), dan [3] al baahah (الْبَاهَة). Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 5/70, Mawqi’ Al Islam.
[3] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.
[4] Lihat Syarh Muslim, 5/70.
[5] HR. Ahmad no. 11149, 3/18, dari Abu Sa’id. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (bagus). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.
[6] HR. Muslim no. 2159.
[7] Majmu’ Al Fatawa, 15/394, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H
[8] Majmu’ Al Fatawa, 15/420-426
[9] Al Jawabul Kafi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
[10] Lihat Talbis Iblis, 289, Asy Syamilah
[11] Talbis Iblis, 283

Minggu, 01 Juli 2012

Allah pun bisa cemburu, apalagi aku. Lantas, mengapa aku cemburu?

Ya Allah, salahkah bila aku punya rasa cemburu? Apa yang harus kulakukan bila rasa itu kembali muncul?

Jangan Cemburu Padaku, Sahabat


Wahai kalian para bidadara,
Jangan pernah cemburu padaku
Karna ku belum menjadi apa
Juga siapa!
Wahai kalian para pengantin mujahid
Jangan pernah cemburu padaku
Karna aku hanya pengais butiran amal
Tuk hapus segala dosaku lalu...
Wahai kalian para lelaki shalih
Jangan pernah cemburu padaku
Jangan pernah...
Kumohon,
Karna aku hanya renik yang terhempas
Di hamparan kanvas Tuhanmu...
Jangan pernah cemburu...
Ku mohon,
Jangan pernah cemburu,
Karna cintanya kita sama tak tahu,
Kemana kan berlabuh...



Cemburu itu bisa mengajak kita selalu dalam kebaikan dan ketaqwaan.
Mungkinkah diri ini bisa melakukan semua itu ? Hanya berusaha semaksimal mungkin, selalu berdo’a kepada Allah supaya dibimbing dalam lindungan-Nya. Begitu banyak dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Allohu Ghofuur, ampunilah dosa-dosa yang telah aku lakukan. Tidak bisa membayangkan betapa merugi diri ini jika tidak diberi ampun oleh Allah.
Semoga dalam diri ini terdapat azzam yang kuat untuk selalu memperbaiki amal ibadah supaya mendapatkan ridho dan berkah Allah. Aamiin …
Karena aku masih cemburu...
Tak seperti bintang di langit, 
Tak seperti indah pelangi, 
Karena diriku bukan lah mereka.. 
Ku apa adanya, 
Wajahku, ya... memang begini, 
Sikapku jelas tak sempurna, 
Ku akui ku bukanlah mereka, 
Ku apa adanya, 
Menjadi diriku, dengan segala kekurangan, 
Menjadi diriku, atas kelebihanku, 
Terimalah aku, seperti apa adanya, 
Aku hanya insan biasa, tak mungkin sempurna, 
Tetap kubangga, atas apa yang kupunya, 
Setiap waktu ku nikmati, anugerah hidup yang ku miliki.. 
aku memang manusia biasa, yang tak sempurna dan kadang salah, 
namun.. 
dihatiku hanya satu cinta, untuk kalian semua luar biasa, insya Allah... 
manisnya ukhwah itu seperti manisnya buah kurma.. 
kalau tidak di makan buah itu, dari mana dapat manisnya.. 
seperti juga dengan manusia, kalau tidak mengenali satu sama lain, 
kita tidak akan dapat merasai kemanisan ukhwah itu...

salam ukhwah fillah abadan abada, senyum :) 

Mengelola Cemburu harus punya ilmu. berikut ini beberapa kutipan yang semoga bisa mencerahkan pikiran dan menjernihkan hati kita.

Sebuah kutipan tulisan dari Majalah Hidayatullah, November 2010 dengan judul : 

Adab Cemburu


Kata orang, cemburu itu perlu. Sebaliknya, tak sedikit yang menolak dikatakan sebagai pencemburu. Itulah sifat cemburu. Layaknya mata uang, ia memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Dengannya sebuah rumahtangga bisa bertambah rekat. Namun, tak jarang justru ia menjadi awal sebuah kehancuran hidup seseorang. Berikut ini beberapa pandangan Islam mengenai sifat cemburu.
Pilihlah yang Disukai Allah
Dalam sebuah riwayat, rupanya sifat cemburu itu terbagi menjadi dua. Ada yang dicintai Allah, namun ada pula yang tak disenangi oleh-Nya. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Cemburu itu ada dua macam. Ada cemburu yang dicintai Allah dan ada juga yang dibenci-Nya. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah cemburu yang disukai Allah itu?” Beliau menjawab, “Jika kedurhakaan-kedurhakaan kepada-Nya dan jika hal-hal yang diharamkan-Nya dilanggar.” Kami bertanya lagi, “Lalu apakah cemburu yang dibenci Allah?” Beliau menjawab, “Kecemburuan salah seorang di antara kalian di luar kadarnya.”

Allah pun Bisa Cemburu
Cemburu adalah salah satu sifat Allah, namun ia tak termasuk dalam Asma al-Husna (Nama-nama indah Allah). Nabi bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih cemburu selain daripada Allah. Karena itu Dia mengharamkan berbagai kekejian, yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Cemburu Para Nabi
Terhadap sebuah kemungkaran, Nabi Muhammad sangatlah pencemburu. Hal ini tergambar dalam kisah Sa’ad ibn Ubadah. Suatu ketika ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saran engkau jika saya mendapati istriku berzina dengan seorang laki-laki? Apakah saya harus menangguhkan balasan hingga mendapatkan empat orang saksi?” Nabi menjawab, “Benar!” Sa’ad berkata lagi, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, bagaimana jika saya memukulnya dengan punggung pedang?” Nabi menjawab, “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada dirinya.” (Riwayat Bukhari)

Cemburu Itu Manusiawi
Saking cintanya kepada –sang suami- Rasulullah, ‘Aisyah pun tak luput dari rasa cemburu. ‘Ummu al-Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bercerita, aku tak pernah cemburu terhadap wanita seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Karena Nabi seringkali menyebut namanya. Suatu hari beliau menyebut namanya, lalu aku berkata, “Apa yang engkau lakukan terhadap wanita tua yang merah kedua sudut mulutnya? Padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik daripadanya kepadamu.” Nabi bersabda, “Demi Allah, Dia tidak memberikan ganti yang lebih baik daripadanya kepadaku.” (Riwayat Bukhari)

Stop Cemburu Buta
Cemburu yang dibangun di atas imajinasi dan buruk sangka hanyalah akan merusak sebuah hubungan. Ia tak lebih dari mengikuti hawa nafsu semata. Padahal ia sendiri tak mengetahui persoalan kecuali menuruti perasaan dan emosi sesaat saja. Bahkan boleh jadi cemburu tersebut lalu ditunggangi oleh pihak ketiga yang ingin merusak keutuhan rumah tangga seseorang.

Jalin Komunikasi
Menjalin komunikasi yang sehat bisa menjadi jembatan yang merekatkan kembali rumahtangga yang lagi renggang. Saling terbuka dalam segala urusan niscaya semakin memudahkan dalam menyelesaikan suatu persoalan rumahtangga.*


Sebuah tulisan lagi aku baca dengan judul:

Saat Cemburu Menyapa
penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Sakinah Mengayuh Biduk 12 - Februari - 2004 00:37:30

Cemburu merupakan tabiat wanita. Ini juga dialami para istri Rasulullah dan shahabiyyah yg lain. Namun tentu saja kecemburuan ini tdk serta merta membutakan hati mereka. Bagaimana dgn kita?
Cemburu tdk hanya milik lelaki tapi juga milik kaum wanita. Bahkan wanitalah yg dominan memiliki sifat yg satu ini krn merupakan tabiatnya. Dan perasaan cemburu ini paling banyak muncul pada pasangan suami istri .
Oleh krn itu semesti hal ini menjadi perhatian seorang suami. Sehingga ia tdk serampangan dlm meluruskan ‘kebengkokan’ sang istri dan dapat memaklumi tabiat wanita ini selama dlm batasan yg wajar. Apalagi pada hakikat kecemburuan istri terhadap suami bukan merupakan hal yg tercela. Bahkan menjadi tanda ada rasa cinta di hatinya. Tentu selama tdk melampaui batasan syariat.
Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani asal dari sifat cemburu bukanlah hasil usaha si wanita namun wanita memang diciptakan dgn sifat tersebut. Namun bila cemburu itu melampaui batas dari kadar yg semesti mk menjadi tercela. Bila seorang wanita cemburu terhadap suami krn sang suami melakukan perbuatan yg diharamkan seperti berzina atau mengurangi hak atau berbuat dzalim dgn mengutamakan madu kata Al-Hafidz cemburu semacam ini disyariatkan .
Dengan syarat hal ini pasti dan ada bukti . Bila cemburu itu hanya didasari sangkaan tanpa bukti mk tdk diperkenankan. Adapun bila si suami seorang yg adil dan telah menunaikan hak masing-masing istri tapi masih tersulut juga kecemburuan mk ada udzur bagi para istri tersebut bila cemburu sebatas tabiat wanita yg tdk ada seorang pun dari mereka dapat selamat darinya. Tentu dgn catatan ia tdk melampaui batas dgn melakukan hal-hal yg diharamkan baik berupa ucapan ataupun perbuatan.
Cemburu Melebihi Batas
Ada kala kecemburuan seorang istri terhadap suami sangat berlebihan. Di benak seolah hanya ada sifat curiga. Bahkan tdk jarang ia melemparkan prasangka buruk kepada suami dan tdk bisa menerima kenyataan bila suami memiliki istri yg lain.
Yang ironis adl bila ada istri yg mengalami hal ini kemudian tdk dapat menahan diri dari perkara yg Allah haramkan seperti lari ke “orang pintar.” Dengan bantuan tukang tenung atau tukang sihir ia berharap suami membenci madu dan hanya mencintai dirinya. Padahal perbuatan sihir merupakan perbuatan kekufuran yg diharamkan sebagaimana Allah nyatakan dlm firman-Nya:
“Dan mereka mengikuti apa yg dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman1 padahal Sulaiman tidaklah kafir2 akan tetapi setan-setan itulah yg kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yg diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut sedangkan kedua tidaklah mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum kedua mengatakan: ‘Sesungguh kami hanyalah cobaan bagimu krn itu janganlah engkau berbuat kekafiran.’ mk mereka mempelajari sihir dari kedua yg dengan mereka dapat memisahkan antara suami dgn istrinya. Tidaklah mereka dapat memberi mudharat kepada seorang pun dgn sihir tersebut kecuali dgn izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yg memberi mudharat kepada mereka dan tdk memberi manfaat. Sungguh mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yg menjual agama dgn sihir itu tiadalah bagi keuntungan di akhirat. Betapa jelek perbuatan mereka menjual diri mereka dgn sihir itu seandai mereka mengetahui.”
Nabi  juga bersabda:
“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yg membinasakan. Para shahabat bertanya: ‘Apa tujuh perkara itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘ Syirik kepada Allah sihir’…”
Saking cemburu sebagian wanita bahkan ada yg sampai berangan-angan tdk dibolehkan poligami dlm syariat ini3. Bahkan ada yg membenci syariat krn menetapkan ada poligami. Sebagian yg lain mengharapkan kematian suami bila sampai menikah lagi. Yang lain tdk berangan demikian tapi lisan digunakan utk mencaci maki madu meng-ghibah4 dan menjatuhkan kehormatannya.
Karena sifat cemburu ini pula mayoritas wanita merasa mendapatkan musibah yg sangat besar kala suami menikah lagi. Semesti bagi seorang mukminah apapun kenyataan yg dihadapi semua itu disadari sebagai ketentuan takdir Allah. Semua musibah dan kepahitan yg didapatkan di dunia itu sangat kecil dibanding keselamatan agama yg diperolehnya.
Salahkah Bila Aku Cemburu?
Mungkin sering muncul pertanyaan demikian di kalangan para wanita. mk jawab dapat kita dapati dari kisah-kisah istri Nabi . Mereka pun ternyata memiliki rasa cemburu padahal mereka dipuji oleh Allah  dlm firman-Nya:
“Wahai istri-istri Nabi kalian tdk sama dgn seorang wanita pun jika kalian bertakwa…”
Al-Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa istri-istri Nabi  tdk sama dgn wanita lain dlm hal keutamaan dan kemuliaan namun dgn syarat ada takwa pada diri mereka.
Nabi  sendiri sebagai seorang suami memaklumi rasa cemburu mereka tdk menghukum mereka selama cemburu itu dlm batas kewajaran.
‘Aisyah xbertutur tentang cemburunya:
“Aku tdk pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah  seperti cemburuku kepada Khadijah krn Rasulullah  banyak menyebut dan menyanjungnya.”
‘Aisyah pernah berkata kepada Nabi  mengungkapkan rasa cemburu kepada Khadijah:
“Seakan-akan di dunia ini tdk ada wanita kecuali Khadijah? Nabi  menjawab: ‘Khadijah itu begini dan begitu5 dan aku mendapatkan anak darinya.’”
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Sebab cemburu ‘Aisyah krn Rasulullah  banyak menyebut Khadijah meski Khadijah telah tiada dan ‘Aisyah aman dari tersaingi oleh Khadijah. Namun krn Rasulullah sering menyebut ‘Aisyah memahami betapa berarti Khadijah bagi beliau. Karena itulah bergejolak kemarahan ‘Aisyah mengobarkan rasa cemburu hingga mengantarkan utk mengatakan kepada suaminya: “Allah telah menggantikan untukmu wanita yg lbh baik darinya.” Namun Rasulullah berkata: “Allah tdk pernah menggantikan untukku wanita yg lbh baik darinya.” Bersamaan dgn itu kita tdk mendapatkan ada berita yg menunjukkan kemarahan Rasulullah kepada ‘Aisyah krn ‘Aisyah mengucapkan hal tersebut didorong rasa cemburu yg merupakan tabiat wanita.”
Pernah ketika Nabi  berada di rumah seorang istri salah seorang ummahatul mukminin mengirimkan sepiring makanan utk beliau. Melihat hal itu istri yg Nabi  sedang berdiam di rumah segera memukul tangan pelayan yg membawa makanan tersebut hingga jatuhlah piring itu dan pecah. Nabi  pun mengumpulkan pecahan piring tersebut kemudian mengumpulkan makanan yg berserakan lalu beliau letakkan di atas piring yg pecah seraya berkata: “Ibu kalian sedang cemburu.” Beliau lalu menahan pelayan tersebut hingga diberikan kepada ganti berupa piring yg masih utuh milik istri yg memecahkan sementara piring yg pecah disimpan di tempatnya.
Hadits ini menunjukkan wanita yg sedang cemburu tidaklah diberi hukuman atas perbuatan yg dia lakukan tatkala api cemburu berkobar. Karena dlm keadaan demikian akal tertutup disebabkan kemarahan yg sangat.
Namun bila cemburu itu mengantarkan kepada perbuatan yg diharamkan seperti mengghibah mk Rasulullah  tdk membiarkannya. Suatu saat ‘Aisyah berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah cukup bagimu Shafiyyah dia itu begini dan begitu.” Salah seorang rawi hadits ini mengatakan bahwa yg dimaksud ‘Aisyah adl Shafiyyah itu pendek. Mendengar hal tersebut Rasulullah  berkata kepada ‘Aisyah:
“Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata yg seandai dicampur dgn air lautan niscaya akan dapat mencampurinya.”
 Juga kisah lain ketika sampai berita kepada Shafiyyah bahwa Hafshah mencela dgn mengatakan: “Putri Yahudi” Shafiyyah menangis. Bersamaan dgn itu Nabi  masuk menemui dan mendapati sedang menangis. mk beliau pun bertanya: “Apa yg membuatmu menangis?” Shafiyyah menjawab: “Hafshah mencelaku dgn mengatakan aku putri Yahudi.” Nabi  berkata menghiburnya: “Sesungguh engkau adl putri seorang nabi dan pamanmu adl seorang nabi dan engkau adl istri seorang nabi lalu bagaimana dia membanggakan diri terhadapmu?” Kemudian beliau menasehati Hafshah: “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah”.
Wallahu a’lam. 
Sumber: www.asysyariah.com



Kemudian tulisan ini:


Kecemburuan dalam Rumah Tangga

Khutbah Jumat
Disampaikan oleh Al Ustadz Ali Basuki
Dalam perjalanan kehidupan manusia, seseorang akan menghadapi berbagai hal saat berinteraksi dengan manusia yang lain. Oleh karena itu diperlukan bimbingan syariat agar kehidupan seseorang mendapatkan berkah dari Allah. Begitu pula kehidupan sepasang suami istri, kecemburuan merupakan suatu hal yang sangat mungkin terjadi dalam perjalanan mengaruhi bahtera kehidupan. Cemburu merupakan sifat dasar yang dimiliki manusia terutama wanita. Suami harus bisa memahami watak istrinya karena wanita adalah orang yang kurang akal dan agamanya.
“Wanita diciptakan dari tulang rusuk lelaki, kalau seandainya kita memaksa untuk meluruskannya, maka akan patah, kalau dibiarkan maka akan tetap bengkok” HR Bukhari
Semua ada hikmahnya, kadang Allah mengutamakan kaum pria di atas wanita dan kadang mengutamakan kaum wanita di atas pria.
Kecemburuan merupakan suatu hal yang pasti terjadi, bahkan terjadi di rumah tangga Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam. Diantara kisah tersebut antara lain:
1. Kecemburuan Aisyah terhadap Khadijah
Aisyah cemburu terhadap Khadijah walaupun mereka tidak pernah bertemu. Hal ini dikarenakan Rasulullah sering menyebut-nyebut kebaikan Khadijah, dan Rasulullah mendapatkan keturunan dari beliau. Aisyah berkata, “Bukankah Allah telah menggantikan dengan wanita yang lebih baik?”, dijawab oleh Rasulullah, “Tidak, Allah tidak menggantikannya dengan wanita yang lebih baik.”
Rasa cemburu harus dilandasi dengan ilmu atau hanya akan membawa petaka, diantaranya melakukan hal-hal yang melanggar perintah agama:
  • Sihir untuk memisahkan pasangan suami-istri
  • Kelakuan yang jelek
  • Mengadu domba
2. Kecemburuan Aisyah saat Rasulullah mendapatkan hadiah dari istri beliau yang lain
Seorang suami juga harus berlandaskan ilmu ketika menyikapi rasa cemburu dari istrinya. Dicontohkan ketika ada seorang pelayan yang diutus oleh salah seorang istri Rasulullah yang membawa makanan saat beliau ada di rumah Aisyah, kemudian Aisyah memukul tangan pembantu tersebut sehingga jatuh dan pecahlah piring makanan hadiah tersebut. Tapi Rasulullah tidak marah, tetapi membimbingnya dengan ilmu dan kesabaran. Rasulullah berkata, “Telah cemburu ibu kalian”, kemudian Rasulullah mengumpulkan pecahan piring dan diganti dengan piring yang lain.
3. Kecemburuan istri Rasulullah ketika beliau menikah dengan Shafiyah
Ketika Rasulullah menikah dengan Shafiyah binti Huyai timbul kecemburuan dalam diri Hafshah dan berkata, “Dia adalah anak Yahudi”, hal ini terdengar oleh Shafiyah yang membuatnya bersedih dan menangis. Kemudian dihibur oleh Rasulullah dengan mengatakan, “Ketahuilah bahwa engkau adalah keturunan seorang nabi, pamanmu adalah seorang nabi, dan engkau sekarang berada di bawah naungan seorang nabi. Wahai Hafshah, bertakwalah kepada Allah”.
Kecemburuan seorang suami
Rasa cemburu juga harus dimiliki oleh seorang suami, tidak boleh suami membiarkan istrinya bermaksiat. Lelaki Dayyuts (tidak memiliki rasa cemburu) tidak akan mendapatkan baunya surga. Diantara kisah yang menunjukkan betapa pencemburunya shahabat antara lain:
1. Kecemburuan Sa’ad bin Ubadah
Sa’ad bin Ubadah berkata, “Jikalau aku mendapati istriku bersama seorang laki-laki maka akan aku tebas lehernya”, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa’ad ?, bahkan Allah lebih cemburu lagi”.
Diterangkan oleh Abu Hurairah dalam Shahih Bukhari, “Sesungguhnya Allah itu cemburu, yaitu ketika seorang mukmin melanggar apa yang diharamkan oleh Allah”.
2. Kecemburuan Zubair bin Awam
Asma’ binti Abu Bakar ketika menjaga kecemburuan suaminya, Zubair bin Awam, mereka menikah dalam keadaan Zubair bin Awam adalah seorang miskin yang hanya memiliki seekor kuda dan seekor unta saja. Merupakan kebiasaan Asma’ binti Abu Bakar yang memberikan makan hewan-hewan tersebut, begitu pula membuatkan roti untuk sang suami. Tetapi Asma’ tidak bisa membuat adonan sendiri sehingga harus meminta tolong kepada orang lain yang jaraknya sekitar 8 km. Suatu saat ketika Asma’ membawa biji gandum untuk dibuatkan adonan roti bertemulah dia dengan rombongan Rasulullah Shalallahu ‘alaih wa salam. Dan Rasulullah menawarkan tunggangan kepada Asma’, walaupun Asma’berjalan dengan jarak yang jauh akan tetapi dia menjawabnya dengan mengatakan bahwa kalaulah bukan karena kecemburuan suaminya, tentu Asma’ akan menerimanya. Asma’ berkata, “Sesungguhnya Zubair itu adalah seorang yang sangat pencemburu”. Ketika Asma’ telah tiba di rumah dan menceritakan kejadian ini kepada Zubair bin Awam, Zubair mengatakan, “Sungguh engkau berjalan dengan kakimu lebih aku cintai daripada engkau berjalan dengan khalifah Rasulullah”.
Semoga bermanfaat.