Selasa, 26 Juni 2012

Musnahnya Rindu karena Penawar Rindu


Rindu itu mulai terkikis oleh waktu yang tertatih berjalan.
Jika rindu itu air, saat ini aku sedang berenang ke permukaan,
jika rindu itu laut, maka saat ini aku sedang mencoba
meraih permukaan untuk berdansa bersama ombak meraih pantaimu.

Apakah rindu ini akan sirna, punah dan musnah
saat pantaimu kuraih di permukaan, saat aku terhempas ke dataran
setelah lelah menari nari bersama liarnya ombak.

Apakah rindu ini akan sirna dan musnah,
entah dibawa angin malam atau hilang oleh embun pagi,
entah menguap bersama matahari atau terhempas
meresap kedalam bumi bersama hujan?

Iya, rindu ini bisa jadi akan musnah dan sirna, saat cinta berbicara,
saat kau dan aku bertatap muka, saat aku ada di pelukmu, ahhh
sepertinya rindu ini adalah rasa nikmat dari perihnya sakit.

Nikmat karena aku bisa ungkapkan rasa,
menitipkan ratapanku bersama hujan, atau angin malam,
terkadang aku ingin memusnahkanya dengan keji, atau ?
aku biarkan diriku terombang ambing bersama rindu ?
menikmati setiap tetes perihnya terbang dengan 1 sayap ?
berenang dengan separuh nafas ?
mungkin aku akan merindukan rasa rindu ini
ketika engkau menerbangkanya ke negeri di awan..

Yaa, tidak akan ada rasa rindu sebesar ini nanti,
saat setiap detak jantungku adalah nafasmu,
saat setiap nafasku adalah darahmu,
saat kepak sayapku lengkap.

Itu karena setiap rindu yang lahir di dalam hati
akan selalu terhapus oleh cintamu, benarkah ?
Saat rindu musnah, engkau seperti penghapus
yang membersihkan kertas putihku,
kau warnai, kau hapus, kau warnai, kau hapus…..

Aku  tidak akan memilih memiliki rindu atau dekat bersamamu,
biarlah hujan yang menjawab pesannya,
biar hangatmu yang menjauhkanya atau penghapusmu yang menghapusnya,
pantaimu yang jadikan teluknya.
Atau aku akan bersedih ketika rindu ini sirna?
hilang ditelan warna ?
karena indahmu memberikan corak
berjuta warna yang sanggup menyingkirkan sang rindu
dan menyembunyikanya di tempat tergelap yang ada di hatiku.

Karena cintamu telah menjadi penawar rindu yang meracuni seluruh jiwaku,
menetralisir kata kata ku, melemahkan isyaratku,
dan menghentikan keliaran jeritan jeritan jiwa yang perih.

Karena pantaimu adalah tempat selalu aku berlabuh,
dermaga tempat aku ber istirahat, 
setelah berjuang dengan bulir air liar samudra yang menghempas
hempaskan kapalku
dan hanya di tempatmu aku akan terus berlabuh.

Mungkin kalau engkau adalah sang kompas,
arah mata angin itu hanya satu tertuju padamu.

Jangan Pernah Berhenti Berharap kepada Allah


Berbagai persoalan yang kita hadapi menuntut kita untuk dapat menyelesaikannya. Salah satu solusi yang kita lakukan adalah dengan adanya bantuan dari pihak lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa pilihan kita untuk meminta bantuan dari orang lain akan menjadi harapan tersendiri yang akan dapat menyelesaikan permasalahan kita. Tetapi perlu diingat bahwa permintaan kita kepada orang lain bukan satu-satunya cara.

Sebagai seorang muslim yang menyatakan bahwa Rabb kami adalah Allah, maka sudah selayaknya segala sesuatunya kita mohonkan bantuan dan pengharapan kita pada Allah. Bila kita terlalu berharap pada makhluk-Nya, kita akan menemukan kekecewaan yang teramat mendalam. Makhuk-Nya penuh dengan berbagai kekurangan yang belum tentu bisa membantu memecahkan persoalan kita.Allah itu maha segala-galanya, maha kuasa, maha kaya dan segala maha ada pada-Nya. Jika Allah berkehendak, maka tak sesuatupun yang bakal menghalangi-Nya, bergantung kepada-Nya adalah hal yang paling indah dan sebaik-baik mengadu adalah mengadu kepada-Nya.

Firman Allah:

"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Q.S. Al-Maidah (5): 23)

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di beberapa banyak tempat dan pada peperangan Hunain, tatkala kamu sombong dengan banyaknya kamu, tetapi tidak berfaedah bagi kamu sedikitpun, dan (jadi) sempit bagi kamu bumi yang luas itu, kemudian kamu berpaling sambil mundur." (Q.S. At-Taubah (9): 25)

Jangan berharap kepada manusia karena mereka akan mengecewakanmu. Tetapi berharaplah hanya kepada Allah karena Dia akan memberikan yang terbaik untukmu.

“dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah (94): 8)

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,’ (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).”  (Q.S. At-Taubah (9): 9)

Lantas, bolehkah kita meminta kepada Allah, ketika orang yang kita cintai pergi, Agar Allah membukakan jalan kembali kepada kita terhadap orang tersebut? Bukankah Allah menyuruh kita untuk terus berdoa dan yakin atas doa kita kepada-Nya? Namun, bagaimana perbedaannya dengan konsep mengikhlaskan orang tersebut?

Jawaban:

Boleh. Kita bahkan diajarkan untuk selalu bersikap penuh harap akan karunia dan rahmat Allah. Kita tidak boleh putus asa dari rahmat dan karunia-Nya. Dan benar apa yang Anda katakan bahwa Allah menyuruh kita untuk terus berdoa kepada-Nya dan yakin atas doa kita kepada-Nya. 

Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari hati yang kosong dan lalai.” 

Demikian bunyi sebuah sabda Rasulullah Muhammad saw yang diriwayatkan oleh At-Tirmidziy, Ath-Thabraniy, dan lain-lain. Namun, sebagai manusia, kita tentu tidak selalu berada dalam keadaan ideal atau optimal. Ada kalanya harapan itu berkurang, menipis, dan menyusut. Jangankan harapan, keimanan seseorang saja bisa naik, bisa turun. Ada kalanya bertambah, ada kalanya berkurang. Nah, ketika harapan itu berkurang, yang kita lakukan adalah menyerahkan sepenuhnya persoalan itu kepada Allah. Terserah Allah akan berbuat apa terhadap persoalan yang sedang kita hadapi, selama kita sudah melakukan usaha dan sudah pula berdoa dengan sungguh-sungguh. Allah pasti akan melakukan yang terbaik buat kita. Jika orang yang kita cintai itu kembali kepada kita, itulah pilihan Allah yang terbaik buat kita. Jika ternyata tidak kunjung kembali, memang itulah yang terbaik buat kita di mata Allah. Banyak sekali hal-hal yang terjadi atau kita alami dalam kehidupan ini tetapi tidak kita sukai, namun sebenarnya hal itu amat baik buat kita. 

Dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia tidak baik bagimu. Demikian firman Allah dalam (Q.S. al-Baqarah (2): 216).

Keadaan seperti yang ditanyakan ini mirip dengan keadaan orang yang berharap segera meninggal dunia karena tidak tahan menghadapi penyakit yang begitu lama dan tidak kunjung sembuh. Kepada orang seperti itu, Nabi melarang meminta mati (misalnya dengan berdoa: Ya Allah, matikan saja aku segera). Apalagi dengan cara bunuh diri. Karena berdoa meminta mati seperti itu sama dengan sikap putus asa. Yang Nabi ajarkan adalah berdoa seperti ini: 

Ya Allah, jika kematian lebih baik untukku, matikanlah aku. Tetapi jika hidup lebih baik bagiku, hidupkanlah aku. 

Doa seperti ini bukan suatu bentuk keputusasaan, tetapi justru sebuah bentuk tawakkal dan berserah diri sepenuhnya kepada ketetapan Allah. Dalam kasus yang Ibu tanyakan, saya kira doa serupa dapat Ibu lakukan. Itulah kurang lebih arti tawakkal dan ikhlas terhadap apa saja yang ditetapkan oleh Allah untuk kita.

Hadist Rasullah:

Dari Anas ra. ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau selama berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku pasti akan memberikan ampunan kepadamu atas segala dosa-dosamu dan Aku tidak akan peduli. Wahai anak Adam, andaikata dosa-dosamu sampai ke langit kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberikan ampunan kepadamu. Wahai Anak Adam!, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku, tapi engkau tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, maka pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (HR. At-Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits ini hasan”)

Demikian, wallahu a’lam.

Raja’ [Berharap Kepada Allah]

Raja’ dan Khauf merupakan 2 sayap (janaahaan) yang dengannya terbang para muqarrabiin ke segala tempat yang terpuji. Kedua sifat ini sangat penting untuk didefinisikan, karena jika tidak akan terjadi dua kesalahan yang sangat berbahaya. Pertama, adalah sikap berlebihan (ghuluww) sebagaimana yang dialami oleh sebagian kaum sufi yang menjadi sesat karena mendalami lautan ma’rifah tanpa dilandasi oleh syari’ah yang memadai [2]. Sedangkan kesalahan yang kedua, adalah sikap mengabaikan (tafriith), sebagaimana orang-orang yang beribadah tanpa mengetahui kepada siapa ia beribadah dan tanpa merasakan kelezatan ibadahnya, sehingga ibadahnya hanyalah berupa rutinitas yang kering dan hampa dari rasa harap, cemas dan cinta.

Raja’ adalah sikap mengharap dan menanti-nanti sesuatu yang sangat dicintai oleh si penanti. Sikap ini bukan sembarang menanti tanpa memenuhi syarat-syarat tertentu, sebab penantian tanpa memenuhi syarat ini disebut berangan-angan (tamniyyan). Orang-orang yang menanti ampunan dan rahmat ALLAH tanpa amal bukanlah Raja’ namanya, tetapi berangan-angan kosong.
Ketahuilah bahwa hati itu sering tergoda oleh dunia, sebagaimana bumi yang gersang yang mengharap turunnya hujan. Jika diibaratkan, maka hati ibarat tanah, keyakinan seseorang ibarat benihnya, kerja/amal seseorang adalah pengairan dan perawatannya, sementara hari akhirat adalah hari saat panennya. Seseorang tidak akan memanen kecuali sesuai dengan benih yang ia tanam, apakah tanaman itu padi atau semak berduri ia akan mendapat hasilnya kelak, dan subur atau tidaknya berbagai tanaman itu tergantung pada bagaimana ia mengairi dan merawatnya.

Dengan mengambil perumpamaan di atas, maka Raja’ seseorang atas ampunan ALLAH adalah sebagaimana sikap penantian sang petani terhadap hasil tanamannya, yang telah ia pilih tanahnya yang terbaik, lalu ia taburi benih yang terbaik pula, kemudian diairinya dengan jumlah yang tepat, dan dibersihkannya dari berbagai tanaman pengganggu setiap hari, sampai waktu yang sesuai untuk dipanen.

Maka penantiannya inilah yang disebut Raja’.

Sedangkan petani yang datang pada sebidang tanah gersang lalu melemparkan sembarang benih kemudian duduk bersantai-santai menunggu tanpa merawat serta mengairinya, maka hal ini bukanlah Raja’ melainkan bodoh (hamqan) dan tertipu (ghuruur). Berkata Imam Ali ra tentang hal ini:
“Iman itu bukanlah angan-angan ataupun khayalan melainkan apa-apa yang menghunjam di dalam hati dan dibenarkan dalam perbuatannya.”

Maka renungkanlah wahai saudaraku !

Maka seorang hamba yang yang memilih benih iman yang terbaik, lalu mengairinya dengan air ketaatan, lalu mensucikan hatinya dari berbagai akhlaq tercela, ia tekun merawat dan membersihkannya, kemudian ia menunggu keutamaan dari ALLAH tentang hasilnya sampai tiba saat kematiannya maka penantiannya yang panjang dalam harap dan cemas inilah yang dinamakan Raja’. Berfirman ALLAH SWT:

“Orang-orang yang beriman, dan berhijrah dan berjihad dijalan ALLAH, mereka inilah yang benar-benar mengharapkan rahmat ALLAH.” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 218).

Sementara orang yang tidak memilih benih imannya, tidak menyiraminya dengan air ketaatan dan membiarkan hatinya penuh kebusukan, darah dan nanah serta kehidupannya asyik mencari dan menikmati syahwat serta kelezatan duniawi lalu ia berharapkan ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya maka orang ini bodoh dan tertipu. Berfirman ALLAH SWT tentang mereka ini:

Maka setelah mereka digantikan dengan generasi yang mewarisi Kitab yang menjualnya dengan kerendahan, lalu mereka berkata ALLAH akan mengampuni kita.” (Q.S. Al’A’raaf, 7: 169).

Dan mereka juga berkata:

“Jika seandainya saya dikembalikan kepada RABB-ku maka aku akan mendapat tempat yang lebih baik dari ini.” (Q.S. Al-Kahfi, 18: 36).

Bersabda Nabi SAW:

“Orang yang pandai adalah yang menjual dirinya untuk beramal untuk hari akhirat, sementara orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya di dunia lalu berangan-angan kepada ALLAH akan mengampuninya.” (HR Tirmidzi 2459, Ibnu Majah 4260, Al-Baghawiy, Ahmad 4/124, Al-Hakim 1/57).

Keutamaan Raja’ yang lainnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW sebagai berikut:

“Seorang hamba ALLAH diperintahkan untuk masuk ke neraka pada hari Kiamat, maka iapun berpaling maka ditanya ALLAH SWT (padahal IA Maha Mengetahui): ‘Mengapa kamu menoleh?’ Ia menjawab: ‘Saya tidak berharap seperti ini’. ALLAH berfirman: ‘Bagaimana harapanmu?’ Jawabnya: ‘ENGKAU mengampuniku’. Maka firman ALLAH: ‘Lepaskan dia’.”

Raja’ hanya bermanfaat bagi orang yang sudah berputus asa karena dosanya sehingga meningggalkan ibadah, serta orang yang demikian khauf pada ALLAH SWT sehingga membahayakan diri dan keluarganya. Sedangkan bagi orang yang bermaksiat, sedikit ibadah dan berharap ampunan ALLAH, maka Raja’ tidak berguna, melainkan harus diberikan khauf.

Sebab-sebab Raja’ adalah pertama dengan jalan i’tibar yaitu merenungkan berbagai nikmat ALLAH yang telah ditumpahkan-NYA setiap waktu pada kita yang tiada sempat kita syukuri ditengah curahan kemaksiatan kita yang tiada henti pada-NYA, maka siapakah yang lebih lembut dan penuh kasih selain DIA? Apakah terlintas bahwa IA yang demikian lembut dan penuh kasih akan menganiaya hambanya?

Adapun jalan yang kedua adalah jalan khabar, yaitu dengan melihat firman-NYA, antara lain:

“Wahai hambaku yang telah melampaui batas pada dirinya sendiri, janganlah kamu putus asa akan rahmat ALLAH, sesungguhnya ALLAH mengampuni seluruh dosa-dosa.” (Q.S. Az-Zumar, 39: 53).

dan hadits-hadits Nabi SAW:

“Berfirman ALLAH SWT kepada Adam as: ‘Bangunlah! Dan masukkan orang-orang yang ahli neraka’. Jawab Adam as: ‘Labbbaik, wa sa’daik, wal-khoiro fi yadaik, ya Rabb berapa yang harus dimasukkan ke neraka?’ Jawab ALLAH SWT: ‘Dari setiap 1000, ambil 999!’ Ketika mendengar itu maka anak-anak kecil beruban, wanita hamil melahirkan dan manusia seperti mabuk (dan wanita yang menyusui melahirkan bayinya, dan kamu lihat menusia mabuk, padahal bukan mabuk melainkan adzab ALLAH di hari itu sangat keras. QS. Al-Hajj, 21: 2). Maka berkatalah manusia pada Nabi SAW: ‘Ya Rasulullah! Bagaimana ini?’ Jawab Nabi SAW: ‘Dari Ya’juj wa ma’juj 998 orang dan dari kalian 1 orang’. Maka berkatalah manusia: ‘ALLAHU Akbar!’ Maka berkatalah Nabi SAW pada para sahabat ra: ‘Demi ALLAH saya Raja’ bahwa kalian merupakan 1/4 dari ahli jannah! Demi ALLAH saya Raja’ kalian merupakan 1/3 ahli jannah! Demi ALLAH saya Raja’ kalian menjadi 1/2 ahli jannah!’ Maka semua orangpun bertakbir, dan Nabi SAW bersabda: ‘Keadaan kalian di hari itu seperti rambut putih di Sapi hitam atau seperti rambut hitam di Sapi putih’.” (HR Bukhari 6/122 dan Muslim 1/139)

Wallahu waliyyut taufiiq.

——————————————————————————–
[1] Disarikan dari Kitab Mukhtashar Minhaajul Qaasidiin, Syaikh Ahmad bin Abdirrahman bin Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah.
[2] Lihat Kitab Talbiisu Ibliis (kesurupan Iblis), Syaikh al ‘Aalim Jamaaluddiin Ibnul Jauziy rahimahullah.



Nafasku adalah Nafasmu, Nafasmu adalah Nafasku

Jika memang kau terlahir hanya untukku,
bawalah hatiku dan lekaslah kembali

selama nafasku masih berhembus,
kunikmati rindu yang datang membunuhku,

hingga suatu hari nanti akan ada suatu masa
setengah jiwaku adalah jiwamu

karena aku telah ada pada setiap desah nafasmu
separuh nafasku adalah nafasmu

karena aku telah denganmu
detak jantungku seirama dengan detak jantungmu

Separuh langkahmu adalah langkahku
maka di hela nafasmu adalah nafasku

Tetaplah hiasi nafasku hingga menjadi indah
karena kau adalah separuh nafasku yang indah

Dan demi nafas-nafas ini, yang telah Allah hembuskan dalam kehidupan 
semoga aku selalu menjalankan perintah Nya,
jauhi larangan Nya
dan akan selalu menjadi yang terbaik untukmu yang kurindukan atas ridho Nya




Senin, 25 Juni 2012

Putih Seputih

aku ingin menjadi putih
seputih mawar yang menyapa pagi dengan ketulusan

aku ingin menjadi putih
seputih awan di langit yang menentramkan hati dengan senyuman

aku ingin menjadi putih
seputih janji suci yang menjadi hiasan dalam setiap doa

aku ingin menjadi putih
seputih salju yang jatuh dari langit dan tersentuh tangan yang menyejukkan hati 

aku ingin menjadi putih
seputih susu yang menawarkan racun hati dan menyehatkan raga

aku ingin menjadi putih
seputih cahaya di hatimu, wahai malaikat kecil

Selasa, 05 Juni 2012

Saat Aku Menunggu...


Saat aku menunggu seseorang yang luar biasa, aku pun harus melakukan hal-hal yang luar biasa.
Aku  harus melakukan hal-hal yang luar biasa 
karena aku yakin, dia pun sedang melakukan hal-hal yang luar biasa.

Ketika aku masih harus menunggu. aku ingin penantianku ini bernilai ibadah.
Aku ingin semua yang ku lakukan saat menanti terhitung amal yang 
kelak menemaniku saat terbaring di atas lahat.
Namun,  terkadang aku merasa penantianku makin hambar, ada banyak hari yang kulewatkan dengan sia-sia, adakalanya aku menghilangkan harapanku ini.


Duhai, jiwa Muslimah…
Bangunlah, bergegaslah, 
mungkin esok tak ada waktu lagi untuk melakukan yang terbaik.
Segera singsingkan lengan baju untuk melakukan hal-hal yang menjadi jembatanmu menuju masa depan. 
Bukalah gerbang masa depan yang indah dunia dan akhirat.

Duhai Jiwa muslimah,…
Jika saat ini kau 
masih terkapar entah kapan Allah akan mengabulkan do’a-doamu…maka, bergegaslah, berjuanglah sebagaimana perjuangan Ummul Mu’minin terdahulu….
Allahu Akbar.


Duhai Jiwa Muslimah…
Berbahagialah, Dialah Allah yang menciptakanmu dengan 
mulia yang menghadirkan surga di telapak kakimu.…Indah, sungguh begitu Indah… Jadilah pemimpin para bidadari di surga Allah kelak di hari akhir. Bermimpilah  dan berdoalah tiada henti dan semoga mimpimu dan doamu terwujud... yang terbaik untukmu...


Amin..  


J

Jumat, 02 Maret 2012

Sebuah pesan muncul di IP Messenger tentang "Surat Lamaran Kerja"

Sebuah pesan muncul di IP Messenger tentang "Surat Lamaran Kerja" yang berisi sebagai berikut:

*perhatikan baik-baik ya...contoh surat lamaran kerja ini...*

SURAT LAMARAN KERJA
Hal : Lamaran Pekerjaan


Kepada Yth.,
Manajer Sumber Daya Manusia
Perusahaan Tambang Minyak Uganda


Salam Sayang,
Bapak Manajer yang terhormat, saya membaca di surat kabar mengenai lowongan kerja di Perusahaan Bapak. Saya membacanya minggu lalu, saat itu saya sedang berada di rumah kawan saya Yadi Sas, dia juga melamar kesini loh pak, apakah surat dia sudah sampai juga? Kalau sudah, jangan pilih dia, pilih saya saja pak, si Yadi itu orangnya keras kepala dan dia suka melawan orang tua tapi untunglah ibunya tidak tempramen seperti ibu Malin Kundang, jadi sampai sekarang dia tidak berubah menjadi batu, kalau tidak percaya bapak bisa lihat senditi ini FB nya http://www.facebook.com/syekhsas. sudah dilihat belum pak? Bagaimana? Tengil kan dia? Dia juga sok artis loh pak, mentang-mentang jago main gitar. Ah sudah dulu pak membicarakan orangnya, bapak ini bagaimana sih kan saya mau melamar pekerjaan.


Kembali lagi ke topik utama ya pak. Sehubungan dengan lowongan kerja di atas, saya mengajukan diri (melamar kerja) untuk bergabung (bekerja) di perusahaan (tempat bekerja) bapak. Mengenai diri saya, saya dapat jelaskan sebagai berikut :


Nama : Agus Suherman


Tempat, Tanggal Lahir : Uruguay, 13 Agustus 1989


Pendidikan Terakhir : Sarjana Ilmu Dakwah dari Sekolah Tinggi Anak Nakal Singapore


Alamat : JL. Kolonel Che Gue Vara, No 12, Blok C, Komplek Pemda Havana, Kuba


Telepon/HP : maaf pak, HP saya hilang di angkit waktu saya mau ke cicadas ke
rumah A Teten nganterin Tahu, telepon rumah dicabut karena tidak
membayar selama 3 bulan, dasar Telkom goblog!, tapi Bapak bisa
menghubungi saya lewat HP Paman saya, namanya Mang Dedi, ini no
nya pak 08997651234, sms aja pak, atau telepon aja, kalau gak
diangkat, berarti dia sedang di sawah pak, dia kan petani, tp walau
petani dia punya bisnis sampingan dia juga jualan Ayam Potong pak,
bisnisnya maju, dia banyak duitnya, istrinya aja kemarin dibelikan
Kulkas 5 buah dan juga Kuda 8 ekor, anaknya yang ada 3, masing-
masing dibelikan Mobil BMW yang baru, ih, rezeki mah gak akan
kemana ya pak, Mang Dedi itu soalnya jujur dan rajin sholat, HP nya
juga bagus, dia pakai I-Phone, dia dapat beli di BEC diantar sama saya,
kan dia orang Garut, dia gak hafal Bandung. Jadi hubungi mang dedi aja
ya pak. Sekalian mungkin aja bapak mau pesan ayam potong segar.


Status Perkimpoian : Belum Menikah. Tapi bukannya tidak laku pak! Saya laku pak, saya
sejak SMA terkenal playboy, bukan karena saya lelaki brengsek, tapi
karena saya terlalu pilih-pilih. Saya orangnya perfeksionis pak, memang
sih tidak baik , makanya saya sadar sekarang. Dulu waktu saya banyak
yang naksir, saya malas karena memang belum ada yang cocok saja,
nah sekarang misalnya saya sudah keterima kerja di perusahaan Bapak
ini, InsyaAllah saya akan menikah pak, ada sih gebetan saya, saya
menyimpan hati sama seorang wanita, cerita sedikit tidak apa ya pak,
daripada bapak stress memikirkan pekerjaan, wanita itu namanya
Amalia, dia sebenarnya tetangga saya, saya mulai dekat dengan dia
sejak menjadi panita perayaan HUT RI di RW saya, pertamanya sih kita
sering ngobrol, dia sering curhat jadinya sama saya, kata dia saya
orangnya lucu, humoris gitu, iya gitu pak? Bapak ga tau ya, nanti lah
bapak kenal sendiri. Nah semenjak acara itu saya dan Amalia semakin
dekat, saling tukar nomor HP, smsan, teleponan, ah. Indahnya pak,
bapak pasti pernah merasakan ini. Tapi satu yang jadi halangan,
Ayahnya Amalia itu, Bapak Haji Usman tidak akan menerima saya
sampai saya mendapatkan pekerjaan, maka dari itu pak, demi niat baik
saya yang rencananya akan langsung melamar Amalia jika
mendapatkan pekerjaan ini maka bapak saya sangat mohon sekali agar
menerima saya bekerja di perusahaan bapak. Please ya Pak.


Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :
1. Daftar Riwayat Hidup
2. Fotocopy Ijazah terakhir
3. Pas Foto Terbaru (berwarna)
4. Fotocopy sertifikat kursus mengemudi
5. Fotocopy sertifikat kursus menjahit
6. Fotocopy sertifikat kursus memasak
7. Fotocopy sertifikat kursus balet
8. Fotocopy sertifikat kursus loncat indah
9. Fotocopy sertifikat kursus renang
10. Fotocopy sertifikat kursus Table manner
11. Fotocopy sertifikat kursus budidaya lele
12. Fotocopy sertifikat kursus budidaya burung berkicau
13. Fotocopy Piagam Penghargaan juara I lomba adzan se-kabupaten Kebumen
14. Fotocopy Piagam Penghargaan juara I lomba fashion show tingkat Kota Makassar
15. Fotocopy Piagam Penghargaan Anak Tersoleh se-RW 16, kelurahan Cicadas. Bandung
16. Fotocopy Piagam Penghargaan kakak terbaik se-kabupaten manokwari
Dan banyak lagi piagam penghargaan yang saya punyai, karena memang saya hobi ikutan lomba pak. Mudah-mudahan itu bisa menjadi pertimbangan dan memperkuat posisi saya sebagai kandidat terkuat calon karyawan di perusahaan Bapak.
Besar harapan saya untuk diberi kesempatan wawancara, dan dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai diri saya. Seperti yang tersirat di resume (riwayat hidup), saya mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman potensi dan seorang pekerja keras.
Demikian saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak.


Hormat saya,






Agus Suherman


*mohon maaf bila ada kesamaan nama, bukan suatu kesengajaan*



hihihihi...serius amat bacanya... :P

Kamis, 01 Maret 2012

Suatu Pagi di Stasiun

Jumat, 02 Maret 2012 Pukul 07.00 WIB aku tiba di Stasiun Tanah Abang. Seperti kebiasaanku pada hari sebelumnya, aku ikut antri membeli tiket kereta Commuter Line jurusan Tanah Abang-Duren Kalibata untuk dipakai pada saat pulang kerja. Ketika tiba di depan loket, kepada petugas loket aku berkata, "Kalibata" Sang Petugas memberikan tiket Serpong.  Aku kembalikan tiket itu, aku berkata kepada petugas loket itu lebih keras dan dieja, "Kalibata". Dengan nada sinis dan terlihat kesal tanpa senyum Sang Petugas kemudian mengatakan, "Begitu, bersuara yang keras. Saya tidak dengar karena ada kaca, masker yang kamu pakai dibuka supaya saya bisa dengar...".  Entah kenapa, kalimat Sang Petugas itu begitu menusuk hati dan ketika aku meninggalkan loket itu menuju tangga turun, kalimat itu ternyata begitu membekas di hatiku dan membuatku menitikkan air mata, sepertinya mataku terlihat berkaca-kaca. Duh, astaghfirullah.... maafkan aku ya Rabb, air mata ini buatanmu, atas izinmu dengan bantuan malaikatmu, mengalir begitu saja.  Aku jadi teringat kejadian masa lalu, sebelum pakai masker pun, aku mengatakan ke Petugas Loket untuk beli tiket "Depok" yang diberikan oleh Petugas adalah tiket "Serpong". Apa salahku? Bukankah kondisi Petugas jadi tidak begitu mendengar itu karena kebisingan yang ada di Stasiun? Jika memang Petugas tidak mendengar, apakah bisa dikatakan pelayanan prima  jika seorang yang melayani masyarakat berbicara demikian? Jika loket dibatasi oleh kaca, sementara kondisi di luar bising karena banyak orang dan suara kereta datang dan pergi, bukankah sebaiknya di depan loket beri microphone supaya suara pembeli bisa terdengar oleh Petugas yang di dalam loket? *Hah, ini kan hanya pemikiranku saja, bukan pemikiran mereka yang menguasai alat transportasi ini. Buat apa aku berpikir tentang ini. Capek dech.*
Aku tidak bisa "complain" karena tidak akan mengubah keadaan saat itu, aku hanya bisa "crying", memahami, kemudian memaafkan. Maafkan dia Ya Allah, semoga dia dan juga mereka yang bekerja berkaitan dengan alat transportasi ini bisa melayani masyarakat lebih baik, lebih ramah, lebih prima, dan lebih profesional, amin. O:)